Kebun Kakao
2026 Tahun
Mulai
Kisah Kami

Dari Limbah Menjadi Berkah

Kakao adalah salah satu sumber pendapatan utama warga Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Di balik manisnya biji kakao, ada limbah kulit yang jumlahnya besar dan selama bertahun-tahun hanya menumpuk di sekitar kebun — belum dimanfaatkan secara optimal, bahkan berpotensi mencemari lingkungan.

Berangkat dari kondisi ini, Kelompok Tani Sido Dadi melalui pendampingan dari Program Studi Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (hibah BIMA Kemdiktisaintek 2026), mengembangkan teknologi tepat guna untuk mengolah limbah kulit kakao menjadi produk pertanian ramah lingkungan bernilai ekonomi bermerek BIOKAO Kompos dan BIOKAO POC (Pupuk Organik Cair), serta bioherbisida alami.

Program ini tidak berhenti pada pelatihan, tetapi juga mendampingi kelompok tani hingga mampu memproduksi secara mandiri, mengemas produk dengan identitas sendiri, dan memasarkannya, termasuk melalui website ini.

Galeri

Proses & Bahan Baku

Dari limbah kulit kakao hingga produk BIOKAO yang siap pakai.

Proses Produksi BIOKAO 1
Proses Produksi #1
Proses Produksi BIOKAO 2
Proses Produksi #2
Proses Produksi BIOKAO 3
Proses Produksi #3
Limbah Kulit Kakao
Limbah Kulit Kakao

Profil Singkat

Nama Kelompok

Kelompok Tani Sido Dadi

Ketua Kelompok

Rahardjo

Jumlah Anggota

23 petani

Fokus Usaha

Budidaya kakao & pengolahan limbah kulit kakao menjadi produk BIOKAO

Pendamping

Program Studi Agroteknologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (Hibah BIMA Kemdiktisaintek 2026)

Mengapa Limbah Kulit Kakao?

Kegiatan panen dan pascapanen kakao menghasilkan limbah kulit dalam jumlah besar. Alih-alih dibuang, limbah ini mengandung unsur hara dan senyawa bioaktif yang bermanfaat — mulai dari bahan organik untuk kompos, nutrisi untuk pupuk cair, hingga senyawa fenolik dan alkaloid alami yang berpotensi sebagai bioherbisida.

Nilai yang Kami Pegang

Prinsip dasar yang menjadi pedoman dalam setiap langkah produksi BIOKAO.

Berkelanjutan

mendukung prinsip ekonomi sirkular dan pertanian berinput rendah (low input agriculture).

Berdaya Lokal

Memanfaatkan sumber daya yang ada di desa sendiri.

Transparan

Produk melalui proses standarisasi sederhana sebelum dipasarkan.

Berdampak

Setiap pembelian mendukung pendapatan tambahan petani kakao Girimulyo.